Proyek Revitalisasi SDN 3 Bejod Disorot, Diduga Gunakan Pasir Laut. Pihak Sekolah dan P2SP Benarkan Penggunaan Pasir Laut

www.jejk86.com / Lebak, Banten – Proyek bantuan revitalisasi sekolah di SDN 3 Bejod, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, Banten, yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026 sebesar Rp 906.985.119, kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Proyek yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Nasional tersebut menuai kritik karena diduga menggunakan material pasir laut sebagai bahan utama pembangunan, yang dinilai tidak sesuai standar konstruksi bangunan pendidikan.

Sejumlah warga pada Senin (5/10/2026) secara terbuka menyatakan kekecewaan mereka terhadap kualitas pembangunan. Salah satu warga, yang enggan disebutkan namanya, mengatakan, “Penggunaan pasir laut sangat berisiko terhadap kekuatan dan ketahanan bangunan sekolah. Hal ini bisa membahayakan anak-anak yang belajar di sana.” Selain itu, warga menilai pelaksana proyek kurang transparan dan tidak mematuhi spesifikasi teknis, sehingga dikhawatirkan hasil revitalisasi tidak akan bertahan lama serta berpotensi membahayakan keselamatan siswa dan guru.

Setelah awak media melakukan konfirmasi, pihak sekolah dan Pengawas Proyek Sekolah (P2SP) membenarkan bahwa material pasir laut memang digunakan dalam proyek tersebut.
dengan dalih buat ngarug . pemasangan keramix,, dan lianya,dalih tersebut di duga tidak masuk akal dan di duga hanya alasan dan opini sendiri “Benar, pasir laut digunakan dalam pelaksanaan revitalisasi, karena material tersebut tersedia dan mudah didapat di sekitar lokasi,” ujar seorang perwakilan sekolah saat ditemui di SDN 3 Bejod. P2SP juga mengonfirmasi hal ini, namun mengklaim bahwa penggunaan pasir laut telah diberikan perlakuan khusus sesuai arahan teknis di lapangan.

Meskipun demikian, sejumlah pihak mempertanyakan apakah penggunaan pasir laut telah melalui tahap pengujian mutu dan mendapat persetujuan perubahan material sesuai prosedur. Penggunaan pasir laut lazimnya tidak direkomendasikan dalam pembangunan gedung sekolah karena kandungan garamnya dapat merusak struktur bangunan dalam jangka panjang. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pihak penyedia proyek atau dinas terkait mengenai pengawasan dan pengujian mutu material yang digunakan.

Masyarakat mendesak pemerintah, khususnya instansi pengawas proyek, untuk segera melakukan evaluasi dan memeriksa secara laboratorium material yang digunakan. Transparansi atas penggunaan dana senilai hampir Rp 1 miliar dinilai krusial, agar mutu pendidikan dan keselamatan anak didik tidak dikorbankan.

Poin-Poin Penting yang Perlu Diperhatikan:
1. Jenis dan sumber material harus dipastikan serta sesuai spesifikasi teknis pekerjaan seperti tertuang dalam RAB dan dokumen kontrak.
2. Perubahan material harus menggunakan prosedur dan persetujuan resmi.
3. Pengujian mutu material sebaiknya dilakukan di laboratorium, bukan hanya berdasarkan pemeriksaan visual.
4. Aspek keselamatan dan ketahanan bangunan sekolah harus menjadi prioritas utama.
5. Pengawasan pekerjaan, terutama material yang masuk lokasi proyek, harus dilakukan secara ketat dan transparan.
6. Dengan nilai proyek mencapai hampir Rp 1 miliar, masyarakat berhak atas informasi terbuka serta hasil akhir pekerjaan.

Publik berharap pemerintah segera mengambil langkah tegas demi menjamin kualitas, keamanan, dan keberlanjutan bangunan pendidikan untuk masa depan siswa dan di duga bahan matrial lainnya.juga bahan paling .rendah yang di pakai di duga tidak sesuai RAB, pada pihak utnasi terkait yang punya kewengan dan tanggung jawab harus segera tinjau .lokasi tersebut agar anggaran negara yang begitu besar tidak di jadikan akang usaha deki meraup .ke untungan.

Redaksi : Y.b