Koalisi LSM, Ormas, Pers dan Mahasiswa Muba Desak Presiden Turun Tangan: Jalan Nasional Sumatera Hancur Lebur, Warga Merasa Ditinggalkan Negara

musi banyu asin21 Dilihat

www.jejak86.com / Muba MUSI BANYUASIN – Gelombang kemarahan publik terhadap kondisi infrastruktur di Sumatera Selatan kembali meledak. Gabungan Koalisi LSM, Ormas, Pers dan Mahasiswa Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) bersama elemen masyarakat Musi Rawas Utara menggelar aksi demonstrasi damai di Ruas Jalan Nasional Sumatera, tepatnya di Simpang Tiga Desa Beruge dan Kelurahan Mangun Jaya, Kecamatan Babat Toman, Senin (25/5/2026).

Meski diterpa panas matahari yang menyengat, ratusan massa aksi tetap bertahan melakukan orasi secara bergantian. Mereka menuntut perhatian serius pemerintah pusat atas kondisi jalan nasional yang dinilai semakin hancur, berlumpur, dan membahayakan keselamatan masyarakat.

Tokoh masyarakat Musi Banyuasin sekaligus pejuang infrastruktur selama lebih dari dua dekade, M. Lekat Gonzales, menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan mendalam masyarakat terhadap lambannya penanganan jalan nasional penghubung Musi Banyuasin menuju Musi Rawas dan Musi Rawas Utara.

“Ini sudah aksi jilid kelima. Jalan Nasional Sumatera yang menghubungkan Sekayu menuju Lubuk Linggau sepanjang lebih kurang 110 kilometer kini kondisinya justru makin rusak parah. Bukan membaik, tetapi semakin hancur, berlumpur, dan nyaris tidak layak dilintasi,” tegas M. Lekat Gonzales saat menyampaikan orasi di hadapan massa aksi, awak media, dan aparat penegak hukum.

Menurutnya, hasil pemantauan dan investigasi lapangan yang dilakukan koalisi masyarakat menunjukkan pekerjaan perbaikan jalan yang dikerjakan oleh kontraktor PT Yasa Perkasa Jakarta sejak Februari hingga Mei 2026 belum menunjukkan progres signifikan.

Ruas jalan yang disorot meliputi Mangun Jaya, Beruge, Sugi Waras, Ngulak, Sanga Desa, Muara Lakitan, Muara Kelingi hingga Muara Beliti perbatasan Kabupaten Musi Rawas. Jalur tersebut merupakan urat nadi transportasi masyarakat dan distribusi ekonomi lintas kabupaten di Sumatera Selatan.

“Kondisi di lapangan sangat memprihatinkan. Kendaraan roda dua dan roda empat banyak terjebak lumpur. Aktivitas masyarakat lumpuh. Ini jalan negara, tetapi kondisinya seperti kubangan sawah,” ujar M. Lekat dengan nada kecewa.

Aksi tersebut diikuti berbagai elemen masyarakat, di antaranya Gerakan Rakyat dan Mahasiswa Musi Banyuasin (GERAMNYA), Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila Kabupaten Musi Banyuasin, aktivis infrastruktur, tokoh masyarakat, hingga organisasi kepemudaan dari Musi Banyuasin dan Musi Rawas Utara.

Hadir dalam aksi itu antara lain H. Firdaus Cik’ani, SE selaku Ketua MPC Pemuda Pancasila Muba, Rudi Hartono Aktivis Infrastruktur, M. Yusuf Helendra, SIP, CDA dari Prima DMI Muba, Fredi, Nuryadin Tokoh Masyarakat Macan Sakti, Al’Jabar dan jajaran PAC Pemuda Pancasila Kecamatan Rawas Ilir, Kecamatan Lais, Babat Toman, Sanga Desa, serta tokoh pemuda dan masyarakat lainnya.

Dalam tuntutannya, massa aksi meminta Presiden Prabowo Subianto turun langsung melakukan investigasi terhadap kondisi Jalan Nasional Sumatera dan Jalan Provinsi Sumatera Selatan yang dinilai terbengkalai bertahun-tahun.

Mereka mendesak pemerintah pusat segera melakukan peningkatan, pelebaran, serta pembangunan jalan cor beton pada ruas Mangun Jaya – Sugi Waras – Keban – Macang Sakti hingga Batang Hari Leko yang berbatasan dengan Kabupaten Musi Rawas Utara sepanjang kurang lebih 50 kilometer.

Menurut Nuryadin dan Al’Jabar, masyarakat sudah terlalu lama hidup dalam penderitaan akibat buruknya infrastruktur jalan lintas kabupaten.

“Sudah hampir 15 tahun jalan ini hancur lebur. Mobil dan motor sering terjebak di kubangan lumpur sampai tidak bisa bergerak. Kami seperti dianaktirikan,” ungkap Nuryadin di sela aksi.

Kekecewaan masyarakat juga diarahkan kepada pemerintah daerah dan pemerintah provinsi. Sejumlah warga secara terbuka mengaku kehilangan kepercayaan terhadap janji pembangunan yang selama ini disampaikan para pemimpin daerah saat kampanye politik.

Massa aksi bahkan menyinggung nama Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru dan Bupati Musi Banyuasin HM Toha Tohet yang dinilai belum mampu menghadirkan solusi konkret atas kerusakan jalan lintas kabupaten tersebut.

“Dulu saat kampanye janjinya membangun jalan. Tapi sekarang faktanya masyarakat hanya diberi harapan dan janji manis. Jalan tetap rusak, rakyat tetap menderita,” teriak salah satu warga Kecamatan Sanga Desa yang ikut dalam aksi demonstrasi.

Aksi damai ini menjadi sinyal keras bahwa persoalan infrastruktur di Sumatera Selatan bukan lagi sekadar isu pembangunan, melainkan telah berkembang menjadi persoalan sosial dan ekonomi yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat akar rumput.

Publik kini menanti langkah nyata pemerintah pusat maupun daerah untuk membuktikan keberpihakan kepada rakyat, sebelum kemarahan masyarakat berubah menjadi gelombang ketidakpercayaan yang lebih besar terhadap penyelenggara negara.

(LP. Kaperwil. Sumsel. ZILI.)